ETMC Moment Apakah Itu?

0
1564

Oleh : Gerardus D Tukan

Gerardus D Tukan
Dosen Kimia FMIPA, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Mendiang Mayor Jenderal TNI Anumerta Elias Tari (El Tari), yang diangkat menjadi Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur tanggal 12 Juli 1966, memulai ceritera ini. Ceritera tentang adanya ETMC. Pria kelahiran Sabu 18 April 1926, dengan nama Elias Tari ini memulai debut kepemimpinannya dengan salah satu program yaitu mengajak masyarakat Nusa Tenggara Timur bermain bola kaki.

Sejarah masuknya olahraga sepak bola di bumi Nusa Tenggara Timur, menurut berbagai sumber, telah diperkenalkan oleh para pedagang VOC sebelum Indonesia merdeka, jauh sebelum provinsi NTT ini ada. Dalam masa penjajahan, olahraga ini hanya berlangsung di kalangan penjajah, namun juga melibatkan masyarakat pribumi yang dekat secara sosiologis dengan para penjajah. Setelah Indonesia merdeka, olahraga sepak bola ini menjadi salah satu jenis permainan yang berkembang di tengah  masyarakat, meskipun hal itu dilakukan dengan tidak leluasa akibat pergolakan politik di  awal-awal masa  kemerdekaan.

Nusa Tenggara Timur (NTT) lahir menjadi satu  provinsi,  tahun 1958. Wang Suwandi diangkat menjadi Gubernur NTT, kemudian diganti oleh W. J. Lalamentik. Setelah itu, pada tanggal 12 Juli 1966, El Tari diangkat menjadi Gubernur  menggantikan W J Lalamentik. Terjadi pembangunan di berbagai bidang sebagai kelanjutan dari pemimpoin sebelumnya dan juga pengembangan yang dilakukan. Salah satu segi pembangunan yang digerakkan oleh El Tari adalah olahraga, termasuk sepak bola.

Pembukaan ETMC 2019 di Kabupaten Belu

Dua tahun sebelum El Tari diangkat menjadi Gubernur NTT, telah ada piala Jusuf yang dikenal di daerah NTT ini. Sebelum El Tari memimpin provinsi NTT, bumi NTT ini telah ada geliat turnamen sepak bola memperebutkan piala Jusuf. Ceriteranya sebagai berikut; tahun 1964,   Panglima Kodam XIV Hasanudin, M. Jusuf  merancang gagasan untuk mempersatukan masyarakat Sulawesi melalui pertandingan sepak bola. Sang panglima menyiapkan pialah untuk diperebutkan, dan diberi nama piala Jusuf.  Keberadaan dan kesemarakan piala Jusuf untuk urusan pertandingan sepak bola, ternyata merambat juga ke wilayah Nusa tenggara Timur.

Berdasarkan semarak  Piala Jusuf, Gubernur El Tari, pun  berinisiatif turun ke desa-desa untuk mengajak masyarakat terlibat dalam kebersamaan olahraga sepak bola. Gubernur El Tari ingin menjadikan olahraga sepak bola sebagai  sarana menyatukan berbagai perbedaan yang ada di kalangan masyarakat NTT. Baginya, olahraga sepak bola merupakan sarana yang paling baik dalam menggalang persatuan dan kebersamaan antar waerga, sebab di dalam olahraga sepak bola tidak membedakan suku, agama, ras, etnis, dan lainnya. Sepak Bola merupakan olahraga yang menembus batas sekat antar warga.

Safari El Tari ke berbagai pelosok untuk mengajak masyarakat NTT keluar dari keterbelakangan dan kurungan primordial untuk berbaur membentuk klub sepak bola, membuahkan hasil. Masyarakat antar desa, antar daerah, antar pulau mulai saling berbaur dalam pertandingan sepak bola. Tahun 1969, El Tari pun menggelar turnamen sepak bola bagi masyarakat provinsi NTT dengan nama El Tari Cup. Klub-klub dari berbagai kabupaten mengikuti turnamen perdana atau sulung ini. Piala El Tari Cup sulung ini pun diraih oleh kesebelasan Perseftim, yakni kesebelasan dari kabupaten Flores Timur.  Perseftim merupakan kepanjangan dari  Persatuan Sepak Bola Flores Timur. Wilayah kabupaten Flores Timur ketika itu mencakup; Flores bagian Timur, pulau Solor, pulau Adonara dan pulau Lembata.

ETMC 2017 di Kabupaten Ende

Tanggal  29 April 1978, Gubernur El Tari meninggal dunia. Setahun kemudian, tahun 1979, El Tari Cup  berganti nama menjadi El Tari Memorial Cup untuk menghormati mendiang El Tari.  Istilah El Tari Memorial Cup pun tenar dengan singkatan ETMC, yang merupakan ajang memperebutkan trofi El Tari. .

Perhelatan ETC hingga ETMC yang semula merupakan pertandingan sepak bola antar kabupaten se provinsi NTT, pun mulai mengalami perkembangan. Pada tahun 2019 dalam ajang ETMC ke 30 di kabupaten Malaka, bukan hanya klub-klub bola dari kabupaten (utusan kabupateen) saja yang berjumpa dan berlaga, namun juga diikuti oleh klub-klub bola yang tidak mengatasnamakan kabupaten, atau bukan merupakan utusan dari kabupaten. Di moment ETMC  ke 30 di Malaka (2019) itu, diikuti pula oleh klub SSB Bintang Timur Atambua dan klub Putra Oesao FC (www.flobamora.news dan Suara Timor.com). Keikutsertaan klub-klub dalam perhelatan perebutan piala El Tari ini  tampaknya menjadi buah dari hasil Konggres Luar Biasa Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) tanggal 13 Januari 2018 yang membentuk Asosiasi Kabupaten (Askab) dan Asosiasi Kota (Askot), yakni lembaga khusus di bawah PSSI untuk mengurusi pembinaan pemain muda.

Melenceng

ETMC 2017 di Kabupaten Ende

Mendiang El Tari menghadirkan momentum ETC merupakan satu forum perjumpaan pemuda-pemuda Provinsi Nusa tenggara Timur yang mempunyai bakat di bidang olahraga Sepak Bola, untuk memperlihatkan kebolehan dan kemampuannya dalam bermain bola kaki.  Sepak Bola merupakan satu jenis olahraga yang sangat diminati masyarakat dunia, termasuk masyarakat Nusa Tenggara Timur. Olahraga jenis ini selain memperlihatkan dan memberikan pembelajaran tentang keapikan kerja sama dalam tim, juga mempertontonkan keindahan menggiring bola, gerakan indah mengecoh lawan, jiwa juang, sportifitas dan berbagai atraksi mengolah bola bundar di tengah lapangan oleh 2 kesebelasan yang bertanding. Di sini, aspek persatuan dan hiburan masal yang ingin ditanam oleh El Tari bagi warga Nusa tenggara Timur.

Nusa Tenggara Timur yang merupakan provinsi kepulauan, perlu mempunyai satu moment perjumpaan antar pemuda dari berbagai kabupaten, yang mengatasnamai kabupatennya. Forum perjumpaan untuk saling kenal sebagai orang NTT dan saling membagi pengalaman. Mereka datang dari berbagai kabupaten, membawa nama baik kabupatennya. Dengan memikul nama kabupaten maka menjadi media untuk tumbuh kembang jiwa berbakti bagi kampung halaman, jiwa mengabdi bagi daerah, jiwa memiliki kabupaten, memiliki provinsi ini, dan daripadanya berkobar semangat membangun daerah ini melalui membangun kabupatennya.

Sekarang, kita patut gelisah bahwa ETMC sudah melenceng ke tujuan lain yaitu merebut kemenangan semata-mata. Klub-klub disilahkan berjuang mererbut piala El Tari itu, hanya untuk raih kemenangan dan kebesaran nama klub-nya. Bukan ‘berbakti’ bagi kabupatennya.  Bahkan mungkin tereset ke ranah bisnis olahraga, dan nuansa saling. Kondisi ini terbentuk sangat berpotensi terbentuk pula  dalam kalangan pengurus klub-klub. Orientasinya hanya mau rebut kemenangan dan bukan aspek pendidikan dan pembentukan karakter anak muda pemain bola untuk berbakti bagi daerahnya.

Seharusnya, moment ETMC adalah ajang pembinaan perjumpaan anak-anak muda NTT, ajang menggalang persatuan dan pembentukan karakter anak muda NTT untuk membangun daerah ini. Maka, ajang ini seharusnya ditangani oleh pemerintah provinsi, dalam hal ini oleh Dinas Pemuda dan Olahranga. Ivent pelaksanaan ETMC menjadi gaweannya DISPORABUD  provinsi, yang dilimpahkan kepada kabupaten tuan rumah. Lalu, pembinaan di kabupaten/kota ditangani oleh DISPORABUD kabupaten/kota. Sehingga, ivent ETMC patut diikuti oleh semua kabupaten/kota. Tidak boleh ada kabupaten/Kota yang menyatakan tidak ikut lantaran tidak ada dana atau alasan lain. Itu sama saja dengan menyatakan diri bukan bagian dari provinsi NTT ini. Jika ada kabupaten yang tidak bisa hadir lantaran tidak ada biaya, atau menjerit ketiadaan anggaran, itu harus menjadi kegelisahan pemerintah provinsi.  Lalu, keributan tentang manajemen klub bola, sebagaimana yang terjadi di Lembata kini, pun tidak perlu terjadi, jika ETMC ini kita tempatkan dan maknai sebagai forum dan  momentum perjumpaan anak-anak muda NTT. Mari kita kembali ke niat tulus dan gagasan luhur El Tari. Selamat bersiap mengikuti ETMC 31 di Kabupaten Lembata, 9 September 2022***

Penulis : Gerardus D Tukan (Anak Lembata tinggal di Kupang)