Lewoleba, “Kita datang lihat dan ingin dengar langsung laporan warga pasca pemulangan. Permasalahan yang disampaikan umumnya keterbatasan air bersih dan rawan pangan akibat tidak maksimal berkebun. Bukan gagal panen, sekalipun daerah ini punya potensi gagal panen dari tahun-ke tahun. Tetapi ini, karena ruang untuk berkebun sangat dibatasi sesuai rekomendasi agar aktivitas warga dibatasi pada radius tertentu”. Demikian penyampaian Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, S.T.,M.T, saat diwawancara di Desa Lamawara ketika melakukan pemantauan keadaan pengungsi Ile Lewotolok pasca pemulangan di Kecamatan Ile Ape dan Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur, Selasa, (12/1/21).

Dalam kunjungan tersebut, Bupati Sunur berdialog dengan masyarakat yang ditemui di rumah maupun di beberapa titik pertemuan. Ia juga menanyakan kondisi kesehatan serta kendala yang dihadapi pasca pemulangan pengungsi pada, Minggu (03/1/21) lalu.

“Kita juga mau pastikan mental mereka karena masih terdengar gemuruh dan terlihat lontaran lava pijar. Rata-rata warga sudah bisa beradaptasi dengan keadaan yang ada sehingga aktivitas mereka kembali pulih menuju normal”, ujar Bupati dua periode itu.

Sambung Sunur, sementara untuk penanganan pemulihan bagi pengungsi pasca pemulangan, pemerintah memiliki mekanisme yang harus dilalui dalam mengeluarkan anggaran. “Pemerintah punya uang namun proses mengeluarkan uang itu ada aturannya yang kita harus taati, sehingga tidak timbul masalah lain”, jelas Ketua Golkar Lembata itu.

Tambah Sunur, saat ini bukan lagi keadaan darurat, namun telah masuk dalam tahap rehabilitasi rekonstruksi. Untuk itu perlu meneliti semua laporan yang masuk beserta administrasi yang lengkap, sehingga tim yang akan turun melihat kerusakan yang terjadi apakah benar akibat erupsi atau bukan. Jika kerusakannya bukan karena dampak erupsi maka tidak ditangani pemerintah dalam rehab-rekon namun lewat bantuan jenis lainnya.

“Tim akan turun untuk melakukan verifikasi di lapangan. Tadi juga saya lihat kerusakan atap rumah warga yang berada di pinggir jalan banyak yang sengnya sudah keropos, karatan semua sehingga berlubang”, tutur Sunur.

Selain itu, Bupati Sunur juga mengharapkan agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan. Lembata saat ini memiliki 94 orang yang terkonfirmasi, dan 2 diantaranya telah meninggal dunia. “Sudah 2 orang meninggal, tegas Sunur.

“Kita juga harus memastikan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 di masa erupsi tetap berjalan pada kedua Kecamatan ini” ujarnya.

Dalam kegiatan itu Bupati Lembata didampingi oleh unsur Forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) Lembata, para kepala Organisasi Perangkat Daerah, Camat Ile Ape dan Ile Ape Timur.

Pantauan Tim Redaksi, bahwa kunjungan tersebut diawali dari Desa Todanara Kecamtan Ile Ape Timur hingga Desa Lamawara Kecamatan Ile Ape. Informasi yang disampaikan Satgas tanggap darurat bahwa sebagian rumah warga dari 3 Desa yakni Desa Bunga Muda, Desa Lamawara dan Desa Amakaka di Kecamatan Ile Ape terdampak kerusakan atap saat erupsi eksplosif (29/11/20) lalu. (Tim Kominfo Lembata)