Lewoleba, Dampak dari erupsi Gunung Berapi Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata membuat masyarakat di kedua kecamatan yang mendiami lereng dan kaki gunung tersebut harus mengungsi ke kota Lewoleba mencari titik aman dari bencana tersebut. Berbagai bantuan pun tak kunjung berhenti membantu meringankan beban moril yang dialami oleh masyarakat di kedua kecamatan di Ile Lewotolok itu.

Bantuan juga datang dari Kabupaten Sikka, yang baru- baru ini melayangkan MUO kerjasama dengan kabupaten Lembata diberbagai bidang. Untuk itu, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, bersama beberapa pimpinan OPD, Ketua PKK Ny. Maria Cahyani Idong dan segenap rombongan yang terdiri dari peguyuban Lembata dan peguyuban Adonara di kota Maumere, berkunjung  ke Lembata untuk menghibur dan melihat secara langsung kondisi para pengungsi di posko-posko Pengungsi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur pada, Sabtu, (5/12/20).

Ketika diwawancarai di sela-sela kunjungannya di posko pengungsian Fransiskus Roberto Diogo mengatakan, bahwa ini merupakan rasa simpati dan empati dari masyarakat dan pemerintah kabupaten Sikka. “Kami hadir di sini karena rasa simpati dan empati yang mendalam dari pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sikka,” ujar Roberto.

Sambungnya, Pemerintah dan masyarakat Lembata yang mengalami peristiwa ini agar diberikan kekuatan untuk menghadapinya. Tuhan pasti senantiasa melindungi kita semua terkhusus pada masyarakat yang ada di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.

“Gejala gunung berapi itu semua kita tidak dapat mengetahuinya. Bisa sampai satu tahun. Setelah itu, baru kita mulai berbenah di segala bidang”, tutur Roberto.

Tambahnya, semoga tidak terjadi lagi pristiwa erupsi, dan segeralah berakhir. Sehingga aktivitas keseharian masyarakat dapat dijalankan sebagaimana biasanya.

“Semoga bantuan ini bermanfaat. Para pengungsi juga tetap bersabar di posko pengungsian sementara ini. Menunggu hingga ada informasi resmi dari pihak yang berwenang,” harap Roberto.

Sementara itu, Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, ST.,M.T, mengatakan, perhatian, kunjungan dan support dari pemerintah Kabupaten Sikka sangat memberikan penghiburan. Menjadi bahwa Pemda Lembata tidak sendiri menghadapi bencana ini.

“Ini bukan siapa-siapa, tapi ini saudaranya yang datang melihat dan membagi rasa dengan saudaranya. Ini ikatan emosional yang harus terpatri terus menerus”, ujar Sunur.

Tambahnya, peristiwa ini harus dijalani dengan penuh suka. Sesulit apapun peristiwa itu, jika kita bergandengan tangan, bahu-membahu semuanya akan terasa ringan dan penuh suka cita.

Lanjutnya, sudah sebayak 10 desa yang sudah dipulangkan. 10 desa yang dipulangkan telah mendapat rekomendasi dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA), untuk kembali. Menurut pihak PPGA, desa-desa tersebut tidak berada dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB). “Ada 10 desa yang sudah kita pulangkan, karena tidak berada dalam KRB. Tinggal 16 desa lainnya yang berada dalam KRB”, tutur Sunur.

Ia juga menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Sikka yang telah memberikan bantuan kepada sanak saudaranya yang sedang mengalami musibah di kabupaten ini. “Atas nama pemerintah kabupaten Lembata dan seluruh masyarakat Lembata menyampaikan limpah terima kasih kepada seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah kabupaten Sikka atas bantuan yang diberikan pada hari ini”, tutup Sunur.

Pemkab Sikka dalam kesempatan itu menyerahkan bantuan uang tunai senilai 4O Juta rupiah, Beras 1.500 kg dan makanan serta minuman dalam kemasan. 

Pantauan Tim Redaksi Kominfo, usai memberikan bantuan. Bupati Sikka bersama rombongan yang ditemani Bupati Sunur langsung meninjau posko pengungsian dan dapur umum yang melayani pengungsi erupsi Ile Lewotolok. (Tim Kominfo Lembata)