SECERCAH HARAPAN RELAWAN DI BALIK MASKER

0
844

SECERCAH HARAPAN RELAWAN DI BALIK MASKER

    Hidup dan mati ada di tangan Tuhan, manusia boleh merencanakan tapi Tuhanlah yang menentukan. Dua baris  Kalimat sederhana ini memotivasi saya dalam menghadapi tugas berat menyemprot setiap penumpang yang datang. Kerja ini berdampak besar menghadang kemungkinan masuknya virus corona di Kabupaten Lembata melalui orang-orang yang datang melalui Pelabuhan Laut Lewoleba dan Waijarang.  Memang Tugas ini sangat berat dan menakutkan karena orang pertama yang menghadapi  penumpang baik dari zona merah maupun hijau adalah petugas penyemprotan sebelum petugas lainya.

Awalnya saya merasa ragu bercampur takut karena informasi tentang Corona Virus Desease 2019 (Covid- 19) telah mengguncang dunia. Aneh tapi nyata.  Virus ini telah   merubah banyak kultur, tradisi, ritual, prosedur  yang berjalan bahkan telah ratusan tahun dan bisa buat berantakan begitu saja. Tak ada sistem kerja dimanapun bisa terus berjalan, menantang datangnya corona. Roda ekonomi bangsa sebesar apapun terhenti, jutaan umat Muslim yang berdatangan di Mekah menunaikan Ibadah haji terhenti, Lapangan Bazilika St.Petrus kosong dari umat Katolik menunggu berkat, anak-anak sekolah bisa tamat tanpa ujian, misa dan sholat Jumad dirumahkan, mobilisasi manusia sehari-hari di hentikan dan lain sebagainya.

Yang bergejolak dalam pikiran saya sekarang adalah ini sebuah kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.  Dari pekerjaan ini saya tanamkan kepercayaan pada institusi pemerintah bahwa setelah saya di terima dan saya siap bekerja sejauh kemampuan saya. Dibalik motivasi ragawi saya untuk bekerja dan mendapatkan upah, ada nilai kemanusiaan yang saya emban dalam missi beresiko tinggi ini. Nyawa masyarakat harus diselamatkan dari pekerjaan saya.

Bermodalkan alat yang disebut sprayer di punggung, saya semprotkan ke setiap penumpang yang turun dari kapal dan semua barang bawaannya. Terlihat sederhana memang ibarat sang petani membasmi ilalang dimusim hujan. Kusadari  pekerjaan ini berat.  Beban takaran 10 liter, 15 liter, atau 20 liter muatan tangki sprayer yang akan saya pikul pasti saya sesuaikan dengan kemampua saya.  Namun beban keselamatan nyawa saya saat menghadapi setiap orang yang datang  tak dapat saya perkirakan dan tak bisa saya ukur setiap harinya, apalagi ada atau pun tidak corona pada penumpang yang saya semprotkan tak nampak secara kasat mata. Disinilah secerca harapan muncul bahwa saya akan selamat dibalik masker  yang menutupi mulut dan hidung saya.

Waktu terus berjalan, manusia dan barang masih berdatangan dari luar Lembata sebelum Pemerintah  daerah benar-benar menghentikannya.  Pekerjaan  harus terus dijalankan sebagai kewajiban. Seiring perjalanan waktu, bantuan untuk tim yang bekerjapun mulai berdatangan dari berbagai pihak. Kali ini giliran Palang Merah Indonesia(PMI) cabang Lembata memberikan bantuan berupa Masker, Sepatu bot/Karet, Sarung Tangan, Kaca Mata, dan Helm. Bantuan dua pasang alat pelindung diri ini dikhususkan bagi para tukang semprot pelabuhan yaitu Pelabuhan Lewoleba dan pelabuhan Fery  Waijarang. Dengan alat pelindung diri yang  semakin memadai  memotivasi saya untuk terus bekerja.

Percakapan dan curhatan hati pekerja Posko II  Saverinus Panang  bersama  tim Kominfo pun terhenti,  disaat ada Komando pimpinan Posko untuk merapat ke pelabuhan karena ada kapal yang mau merapat.  Ayo..! kita bekerja. Semoga Tuhan dan leluhur merestui segala upaya dan kerja kita. (Tim Kominfo Lembata)