RITUS ADAT LEDU LEWU, SELAMATKAN DESA DIKESARE

0
1100

Lewoleba, restu leluhur dan Lewotana dapat  menyelamatkan  Desa Dikesare dari virus corona, demikian Kepala Desa Dikesare Ektakius Suban ketika memberikan satu dua kata setelah  upacara ritual adat tolak bala (lede lewu) di Desa Dikesare Rabu (01/04/2020).

Hidup manusia tak terlepas dari keberadaan adat dan budayanya. Manusia Lamaholot pun demikian memiliki tradisi budaya yang meyakini adanya kekuatan leluhur dan lewotananya untuk dapat membantu membebaskan malapetaka dari kehidupannya.

Masyarakat Lewolein, dengan ritual adat Lede lewu adalah wujud konkrit manusia Lamaholot yang menyandarkan harapan akan keselamatan dari malapetaka wabah virus corona yang mengancam hidupnya. Seperti yang disaksikan tim kominfo ketika melakukan peliputan terhadap pelaksanaan upacara ritual adat tolak bala (lede lewu) di Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata.

Menurut Amir Raya Palilawa Pemangku Ulayat,  ritual Lede lewu adalah bentuk tanggung jawab seorang pemilik kampung (Lewo allapen) untuk menyelamatkan anak tanah dari kesusahan atau malapetaka apa pun termasuk wabah virus corona yang menggelisahkan hampir seantero dunia. Menurutnya Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas keselamatan hidup anak tanahnya, karena itu sebagai pemilik kampung saya melakukan upacara ritual adat tolak bala untuk meminta kepada leluhur dan Lewotana agar mencegah virus corona menyebar dan masuk di Desa Dikesare, tuturnya .

Disaksikan tim kominfo bahwa proses upacara ledu lewu diawali dengan  salah satu anggota suku dari kepite lewu memberi tanda dengan melakukan pukulan dengan menggunakan sebatang kayu pada dinding – dinding rumahnya dan meneriakan kata “ Lodo – Lodo ( keluar – keluar )” , setelah itu baru diikuti oleh semua warga di rumah masing – masing.

Setelah dilakukan ritual pemukulan dinding rumah,  ritus dilanjutkan dengan tuan tanah (suku palilawa,iku, kolo, koro kepite duli, dan kepite lewu) melakukan ritual adat tolak bala (lede lewu).  Ritus ini wajib diikuti oleh seluruh anggota keluarga dan masyarakat yang ada di Desa Dikesare dengan wajib membawa .anyaman  daun lontar dari rumah dan dibawa  ke pinggir pantai, selanjutnya semua anyaman tersebut dikumpulkan dan digantung pada sebatang bambu lalu ditancapkan di pinggir pantai.

Kegiatan selanjutnya setelah penancapan bambu di pinggir pantai  adalah seremonial pemberian makan untuk leluhur oleh tuan tanah / pemangku ulayat dengan membacakan mantra – mantra adat sambil memotong seekor anak ayam dan dibagikan kepada  leluhur di setiap masing – masing suku yang ada di Desa Dikesare. Pada malamnya yakni setiap rumah warga dilarang  untuk menyalakan penerangan dalam bentuk apapun. Seluruh rumah penduduk akan gelap gulita, sunyi dan sepi hal ini dilakukan selama 4 (empat) malam berturut – turut, sebagai tanda silih dosa dan salah .

Kepala Desa Dikesare Ektakius Suban, ketika diminta memberikan satu dua kata  sebagai Pemerintah Desa terkait pelaksanaan seremoni ritual adat lede lewu. Kades Suban menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada pemangku ulayat dan masyarakat desa yang telah mengikuti seremonial adat lede lewu dengan penuh hikmat. Kepala Desa 3 (tiga) periode itu berharap agat masyarakat  tetap menaati tata tertib adat agar  lelehur dan Lewotana  merestui segala permohonan kita dan Desa Dikesare diselamatkan dari virus corona, tegasnya dengan nada optimis. (*Kominfo-Lembata)