Keanekaragaman budaya daerah dalam bentuk tarian, busana adat dan ritual NTT dan luar NTT serta kecamatan se kabupaten Lembata dipertunjukan para peguyuban masing-masing daerah  di Lewoleba Lembata, Kamis, 29 Agustus 2019.  Kegiatan ini masuk dalam agenda NTT Fasion Carnaval diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Lembata dalam  rangkaian acara Festival 3 Gunung yang diagendakan  berlangsung dari pukul 14.30 wita dari Simpang 5 Wangatoa menuju lokasi Ex Harnus Pelabuhan Laut Lewoleba.  Sepanjang jalan tiap daerah mempertunjukan keanekaragaman busana adat,   ritual adat  serta tarian khas daerah masing-masing .

Sebagaimana diliput tim  Kominfo di lokasi kegiatan, saat memasuki lokasi, satu persatu peserta langsung mempertunjukan keragaman busana daerah serta tarian khas daerahnya dengan menggambarkan makna tariannya dalam sinopsis dari masing-masing tarian.  

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, Wakil Bupati Thomas Ola, para pejabat dari Kementiran yang hadir, Pj.Sekretaris Daerah Athanasius Aur Amuntoda, pimpinan OPD dan ribuan  warga terlihat gembira dan antusias menyaksikan keanekaragaman budaya NTT dan luar NTT yang dipertunjukan di lokasi kegiatan.

            Tarian dan busana  kami mengekpresikan peperangan, perang itu butuh kehebatan dan keberanian. Kehebatan dan keberanian ini modal bukan untuk berperang lagi, tapi ini untuk mengabdikan diri membangun Lembata tempat kami mengais sesuap nasi. Demikian Ansel Bahy wakil dari Adonara di lokasi kegiatan. Sejumlah tarian daerah dipertontonkan seperti Ja’i dari Ende, Likurai dari Belu, Jawa Modern dari komunitas Jawa Lembata, tarian Cakalele dari Alor, Kataga dari Sumba, Ndun Ndun Date dari Manggarai, Lava dari Lamalera, Tarian Oba dari Buyasuri dan sejumlah tarian menarik lainnya.

            Lembata ini kecil tapi dihuni begitu banyak suku di Indonesa. Dengan moment ini kita mengetahui budaya di luar daerah kita sendiri dan ini istimewa, kata Ibu Irma Luweheq  di Lokasi Kegiatan. Menurutnya anak anak perlu didik di sekolah  tentang motif tenun ikat derah lain dan berbagai jenis tarian daerah,  supaya mereka bisa membawakannya  pada masa yang akan datang, kata ibu Irma usai menyaksikan tarian  Likurai dari Belu. (Molan Kominfo)