Bupati Meminta Semua Lintas Sektor Lakukan Upaya Cegah Stunting

Dalam rangka mempersiapkan generasi emas di Kabupaten Lembata, Bupati Kabupaten Lembata  Eliaser Yentji Sunur, membuka kegiatan secara resmi  kegiatan Rembuk Penurunan Stunting di Kabupaten Lembata dengan maksimalkan pengasuhan di 1000 hari pertama kehidupan, kegiatan ini dilakukan di Aula Koperasi Angkara Kelurahan Lewoleba Timur, pada Senin, (1/7/19). Turut hadir dalam kegiatan ini Anggota DPRD Kabupaten Lembata Petrus Gero, Ketua PKK Kabupaten Lembata  Ibu Yuni Damayanti, Staf Ahli Bupati, Para pimpinan OPD Lingkup Pemkab Lembata, pemateri dari provinsi dan peserta kegiatan melingkup para bidan dan kader anak dan balita.

Para Peserta yang mengikuti Kegiatan Rembuk Penurunan Stunting di Kabupaten Lembata pada Senin,(1/7/19) Dok Kominfo

Dalam sambutan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, menyampaikan bahwa pemerintah Kabupaten Lembata saat ini sedang berupaya mewujudkan kabupaten Lembata menjadi kabupaten sehat mengingat kesehatan merupakan modal utama dalam pembangunan untuk dapat menigkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lembata. Status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-hamil, saat kehamilannya dan saat menyusuhi atau yang dikenal dengan 1000 hari pertama kehidupan. Pada Periode 1000 hari pertama kehidupan merupakan priode yang sensitive karena akibat yang ditimbulkan oleh masalah Gizi pada periode tersebut berdampak pada terganggunya perkembangan otak, kecerdasan dan fisik, dan pada jangka panjang bisa menimbulkan masalah stunting, katanya.

Tambah beliau bahwa data yang ia peroleh berdasarkan data persentase yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan pada Bulan Mei 2019 mencapai (21,9%) ada penurun dibandingkan pada tahun dan bulan sebelumnya.  Sedangkan untuk jumlah stunting yang paling besar dasarkan data angka berada di Kecamatan Buyasuri dengan jumlah sebanyak 459 orang penderita, dan yang berada pada angka paling rendah di Kecamatan Lebatukan dengan jumlah 55 orang penderita.

 Sementara untuk data persentaseyang paling rendah berada di Kecamatan Omesuri dengan total persentase (6,2,%), dan untuk data persentasepaling tinggi berada di Kecamatan Nagawutung dengan total persentase berjumlah (49,8%), jumlah ini jika dibandingkan lebih tinggi dari jumlah penderita stunting yang berada di profinsi NTT dengan jumlah persentase (42,sekian%). Ini merupakan masalah gawat darurat yang harus secepatnya kita atasi karena ini merupakan masalah serius yang dihadapi oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten, katanya.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur Saat Memberikan Arahan dan membuka Kegiatan Rembuk Penurunan Stuting di Kabupaten Lembata pada Senin,(1/7/19) Dok Kominfo

Untuk itu mari kita bersama –sama mencari tahu sumber masalahnya, sehingga pemerintah bisa mengintervensi kegiatan-kegiatan yang mengarah pada penurunan angka stunting baik itu di tingkat desa maupun di kecamatan. Untuk itu saya meminta  agar para camat memerintahkan setiap kepala desa agar dalam penyusunan APBDes dapat memasukan salah satu kegiatan yang berpengaruh pada penurunan angka Stunting di kabupaten ini, tegasnya.

Lanjutnya, ini merupakan kebijakan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah stunting sehingga bersinergi dengan pemerintah provinsi dan pusat. Oleh karena itu, bupati mengingatkan penanganannya memerlukan dukungan lintas sector bukan hanya menjadi tugas dinas kesehatan saja. Melainkan dukungan seluruh instansi dan masyarakat diperlukan untuk bersama-sama mendukung kegiatan ini dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Lembata, Tegasnya. Hal ini diawali dengan penandatanganan komitmen bersama percepat penurunan angka stunting di kabupaten Lembata oleh Bupati dan seluruh Pimpinan OPD. (Yan Matarau/Kominfo Lembata)