Masyarakat Desa Aulesa, Kecamatan Ile Ape Timur patut berbangga. Mengapa tidak. Perpustakaan Desa yang telah dibangun sebagai media mencerdaskan masyarakat diresmikan langsung oleh Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur pekan lalu, di Desa Aulesa. Perpuskaan Desa tersebut menelan biaya sebesar Rp.96.642.830,- yang bersumber dari Alokasi Dana Desa.Ini prestasi luar biasa, karena dari 144 Desa dan 7 Kelurahan pada 9 Kecamatan belum punya Perpuskakaan desa permanen.Ayo, desa lain berlomba inovasi dan improvisasi membangun desa, mencerdaskan masyarakat.

          Kegembiraan  masyarakat  Desa Aulesa tak terbendung lagi saat rombongan Bupati  Lembata tiba di Gerbang desa Aulesa. Seluruh Warga masyarakat, para Kepala Desa dan Ketua BPD  Se-Kecamatan Ile Ape Timur menyambut gembira kehadiran Bupati Sunur meski diguyur hujan lebat. namun tidak mengurangi niat warga untuk berjumpa dengan orang nomor satu Lembata yang untuk  kedua kalinya Kunker di Desa Ebak – Aulesa ini. Penerimaan diawali dengan lantunan Oreng/litani  dalam bahasa  daerah dan suguhan adat. Disemarakan dengan tarian adat.

           “Hari ini hari penuh berkat bagi seluruh masyarakat Desa Aulesa. Kami merasa sangat  berbahagia dengan kehadiran Bupati Lembata, Bapak Eliazer Yantji Sunur bersama  semua pimpinan OPD  ke desa ini. Kunjungan Kerja (Kunker) ini amat penting dan strategis. Karena meresmikan Taman Bacaan dan Perpustakaan Desa yang kami bangun dengan dana ADD tahun 2018,”ungkap Kepala Kepala Desa Aulesa, Silvester Sili.

            Menurut Sili, pembangunan infrastruktur ini  menelan biaya sekitar Rp.96.642.830. Dengan rinciaansebagai berikut. Pembangunan fisik Rp. 75.880.200.96, Pengadaan buku-buku sebanyak 85 judul  buku  menelan biaya Rp: 11.230.28.0,-Sedangkan peralatan dan perlengkapan perpustakaan lainnya sebesar Rp. 9.532.339.31 sen. Dengan demikian total  ADD secara keseluruhan mencapai Rp. 96.642.830.27 sen. Kades sili juga  menyampaikan ada tantangan yang dihadapinya karena kunjungan/minat baca  masyarakat  dan anak-anak sekolah di Desa Aulesa dan desa-desa tetangga sangat tinggi  mengingat  Kecamatan Ile Timur  hanya satu-satunya desa Aulesa yang memiliki perpustakaan Desa. “untuk itu kami mohon kepada pemerintah melalui Bupati Lembata  agar kami dapat difasilitasi berupa Buku-buku untuk menambah leteratur di perpustakaan yang baru dibangun ini. Karena buku-buku yangh ada merupakan pemberian dari donatur perorangan dan LSM Menza,”pinta Kades Sili.

Bupati  Lembata, Yentji Sunur bersama Ibu didampingi Camat Ile Ape Timur dan  ibu  bersamsa Rombongan Saat diterima secara adat  dan disambut warga Desa Aulesa ( foto : VQ ).

          Sebelum sambutan,  Bupati Sunur  membuka tirai Perputakaan Desa Aulesa yang di tandai dengan penarikan Tali Layar Penutup  Gedung Perputakaan dan dilanjutkan dengan membuka pintu gedung perpustakaan  perdana sekaligus menjadi Tamu pertama yang mengunjungi  perpustakaan Desa Aulesa.

Saat Bupati Lembata, Yentji Sunur Menarik Tali  penutup Gedung Perpustakaan Desa Aulesa. ( foto: Vq )
       Pengunjung  pertama  Bupati Lembata   Eliazer Yantji Sunur  sedang membaca buku  dan Saat  bersalaman     dengan   Direktur LSM  Menza   Valentinus Ola. ( foto ; VQ )

          “Saya coba melihat lokasi ini dan penempatan bangunan.  Alam yang berada  disekitar gedung perpustakaan bagitu indah.  Namun saya bertanya dalam hati. Gedungnya sudah ada. Apakah masyarakat hanya meminjam buku dan baca dirumah atau baca dibawa pohon? Lokasi ini perlu adanya daya tarik, pasar kita mana ? Anak-anak dari PAUD karena membaca ini milik kita semua. Karena orang tua kita ini kadang tidak membaca lagi. Mereka lebih banyak baca hati,baca pakai perasaan. Marah juga termasuk literasi. Dan literasi yang benar yang bagaimana? Marah dengan sopan santun,marah bukan dengan tangan. Marah dengan tutur kata,tidak perlu marah pakai ceritera dan ceritera itu penuh didalam Perpustakaan atau dalam gedung  ini, “ungkap Bupati Sunur.

          Lebih jauh Sunur menjelaskan, jangan  makan jagung, bukan melarang  makan jagung tetapi  belajar anak mengambil jagung sendiri tapi baca dalam buku ini  bagaimana cara menanam jagung,disiniah gudang ilmunya kita. Inilah salah satu titik peradaban kita karena membaca adalah membuka cendela dunia. Tempat ini bisa menjadi sentra pertemuan dan posyandu. Bisa untuk duduk berembuk   warga desa baik skala besar maupun skala kecil.  Jadi tempat ini  perlu dimaanfaatkan sesuai peruntukannya .

          “Pemerintah  sebenarnya tahun kemarin  mengalokasikan  anggaran untuk Perpustakaan Desa. Tapi ada larangan tidak boleh hibah kepada perpustakaan Desa  sehingga  buku-buku kita  tetap tersimpan di kabupaten. Pemerintah juga akan berusaha untuk membantu para  kepala desa yang mempunyai  inovasi dan keberanian   mencerdaskan masyarakat melalui alokasi pembangunan ini.  Kabupaten  Lembata sejak tahun 2017 telah mendeklarasikan diri sebagai  Kabupaten Literasi. Karena itu,  para kepala desa yang lain  ayo berlomba  berinovasi dan inprovisasi dalam literasi  membangun desa, “ajak Sunur. *** (VQ/Dinas Kominfo Lembata).**