PESPARANI PERISTIWA GEREJANI, MERAJUT KEBINEKAAN

Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka sungguh gebiar memang. Betapa tidak. Saat ini berlangsung Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) yang diikuti peserta dari 16 Paroki, di Kota Lewoleba. Sungguh menarik karena kegiatan Rohani Akbar Gerejani Katolik ini, bertindak sebagai Ketua Panitia Pesparani adalah seorang Muslim, Haji Mansyur Purab, BA dan dukungan Majelis Tahlim Wangatoa, Lembata. Peserta lomba dari 16 Paroki se-Dekenat Lembata kini mulai bertarung meraih juara agar menjadi Duta Pesparani Lembata mengikuti lomba tingkat Provinsi NTT Tahun 2020, di Kota Renha, Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

     “Pesparani bukan bukan sekedar lomba paduan suara lagu gerejani. Namun punya makna mendalam, yakni meningkatkan pembinaan iman bagi umat Katolik serta meningkatkan toleransi antar dan inter umat beragama, sesuai tema : Mewujudkan Persaudaraan Sehati Menuju Lembata Sejahtera”.  Bahkan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, ST.MT menyebut, “Pesparani wujud peristiwa gerejani, kebangsaan dan merajut kebinekaan”.

     Sejak senin, 25 November 2019, peserta lomba Pesparani berdatangan dari paroki masing-masing dengan mengikuti pawai dengan dua titik star, yakni SDI Waikomo 1 dan Tugu Tani Wangatoa menuju aula Dekenat Lembata. Setiap peserta mengenakan busana daerah masing kecamatan dan langsung mengikuti misa pembukaan yang dipimpin Vikjen Keuskupan Larantuka, Rm. Gabriel Unto, Pr didampingi Deken Lembata, Rm. Philipus Da Gomes, Pr dan sebanyak 20 Imam Selebran.

     Dalam kotbahnya, Vikjen Gabriel Unto mengatakan, secara iman katolik, sumber iman hanya ada dua, yakni Sabda dan Sakramen, teristimewa Ekaristi. Dalam kehidupan kita harus membangun karakter dan iman yang baik. Ketika menjadi dosen bagi mahasiswa di Ledalero, ada tiga hal pokok yang mesti dilakukan bagi mahasiswa. “Suruh mereka bekerja, berolaraga dan bermain musik”. Dengan melaksanakan tiga aspek penting ini, kita sudah membentuk karakter dan iman yang baik, legowo, kerja keras dan ulet. Berolahraga dan bermain musik yang berkualitas dalam suasana kebersamaan. Karena itu, dalam lomba Pesparani ini, Dewan Yuri harus obyektif menilai agar menghasilkan peserta juara terbaik. Bertarung secara berkualitas dalam lomba ini.

     Asisrten l Sekda Lembata, Drs. Fransiskus Langoday bertindak mewakili Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur membacakan sambutan sekaligus membuka Lomba Pesparani yang berlangsung Senin, 26-Kamis,28 November 2019. Bupati Sunur mengatakan, kegiatan akbar Pesparani mewujutkan pembinaan gerejani dan peristiwa kebangsaan. Event pesta paduan suara gerejani merupakan wujut pembinaan iman bagi umat Katolik. Namun lebih dari itu, Pesparani melibatkan banyak pihak dan umat beragama lainnya. Momentum ini penting bagi generasi muda menggali seni dan budaya religi untuk semakin menghayati iman katolik yang lebih berkualitas.

     Menurut Bupati Sunur, event besar Pesparani ini juga moment merajut kebinekaan, kebersamaan dan persaudaraan diantara umat beragama untuk hidup dalam semangat toleransi dan komitmen menunjukan jadi diri bangsa yang beranega ragam suku, ras, budaya.bangsa, dan agama. “Paduan suara ini dinyanyikan dari berbagai suara, misalnya, Bariton, Tenor, Bas, dan Alto, tetapi menyatu dalam sebuah lagu yang Harmoni. Inilah wujud kebersamaan dan persaudaan sejati yang harmonis”, ungkap Sunur.

     ‘Bernyanyi itu ternyata nilainya sangat tinggi. Karena bernyanyi sama dengan dua kali berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”, ungkap Ketua DPRD Lembata, Petrus Gero ketika mengawali sambutannya pada pembukaan Pesparani yang melibatkan umat Muslim itu. Dalam lomba ini lanjut, Petrus Gero, politisi Partai Golkar Tiga Periode, kalian harus berkompetisi dengan sungguh untuk meraih juara. Faktor kunci meraih juara itu tergantung kesungguhan berlatih dan akhirnya keputusan menjadi juara itu adalah keputusan Tuhan sendiri lewat Dewan Yuri. Pesparani adalah peristiwa persaudaraan dan gotong royong yang hendaknya terus dilestarikan dan dipupuk dikalangan generasi muda katolik. Mengapa, karena dijaman digital ini, ada kecenderungan kalangan generasi muda kita sibuk dengan Media Sosial, akibatnya, terserang,”racun pikiran”. Artinya, yang di pikirkan di Medsos hanya yang jelek-jelek saja, urai Gero. Sambil menambahkan, kegiatan akbar gerejani ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah dan Lembaga DPRD Lembata. Dalam Perubahan anggaran Tahun 2019, kontibusi kami hanya sebesar Rp 400 juta guna mendukung kegiatan Pesparani ini. Mungkin tidak cukup. Tapi, itulah kontribusi Pemda dan DPRD Lembata. Tiap tahun kita alokasikan anggaran untuk MTQ dan Pesparani, ungkap Gero.

     Kepala Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Haji Izak Sulaiman, S,Ag dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Pesparani ini bukan peristiwa kebetulan, tapi ini adalah recana dan kebaikan Tuhan sehingga patut disambut penuh sukacita oleh kita semua. “ Pesparani ini pesta iman. Bukan sekedar lomba biasa. Memang perlu kompetisi untuk meraih juara. Tetapi hal ini punya makna lebih dalam dari kompetisi. Karena ajang akbar ini merupakan pembinaan iman umat katolik dan pembentukan karakter umat katolik. Kegiatan akbar dan akrab ini juga bermakna memuliakan Tuhan, ” ujar Haji Izak Sulaiman.

     Momentum Pesparani, lanjut Haji Izak, merupakan ajang persaudaraan umat katolik dan umat beragama lainnya. Merupakan peristiwa berahmat untuk membangun kehidupan beragama yang lebih mederat. Bahkan diakhir sambutannya, Haji Izak Sulaiman mengutip pernyataan Kardinal, Ignatius Suharso ketika Pesparani Tingkat Nasional di Ambon tahun lalu, “ Semoga kita semua dan negara kita dapat merajut cinta kepada Tuhan dan cinta tanah air serta mampu merawat persaudaraan sejati”.

     Pesta rohani akbar ini sungguh luar biasa. Betapa tidak. Pesparani Katolik dipimpin oleh seorang Ketua Panitia beragama Islam. Mantan Kabag Kesra Setda Lembata, Haji Mansyur Purab, BA dipercayakan menjadi Ketua Panitia Pesparani Lembata tahun 2019. “Puji dan syukur kita lambungkan kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa karena oleh kasih karunia-Nya kita boleh diberi ruang dan waktu untuk melaksanakan sebuah kegiatan iman yang syarat maknan dan bernilai liturgis. Yakni, Pesta Paduan suara Gerejani Katolik tingkat Kabupaten Lembata pada hari ini hingga 28 November 2019”, ungkap Haji Mansyur Purab.

     Lebih jauh, Haji Mansyur Purab menjelaskan, bahwa umat katolik sebagai bagian dari warga negara Indonesia mempunya hak yang sama untuk mendapatkan perhatian pemerintah dalam pembangunan bidang agama dan keagamaan sebagaimana diamanatkan dan ditegaskan dalam UU Dasar 1945 Pasal 29 (ayat 2), bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

     Salah satu bentuk perhatian pemerintah adalah senantiasa melakukan pembinaan-pembinaan iman bagi semua masyarakat beragama termasuk masyarakat katolik. Menurut Haji Mansyur, bentuk perhatian  pemerintah yang menggembirakan yang disambut dengan sukacita oleh umat Katolik adalah dikeluarkannya, Peraturan Menteri Agama RI Nomor 35 Tahun 2016, tentang Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Nasional (LP3KN). Peraturan Menteri Agama ini diterbitkan dalam rangka meningkatkan Keiaa dnnanm Ketakwaan Umat Katolik melakukan kreasi budaya dan seni yang bersifat Liturgis dan Inkulturatif pada tingkat daerah maupun Nasional sebagaimanan kita tahu dan kenal ada MTQ bagi umat Muslim dan Pesparawi bagi umat Kristen Protestan yang sudah berlangsung sekian tahun selama ini.

     Menurut Haji Mansyur, dasar Peraturan Menteri Agama Nomor 35 Tahun 2016 ini, maka diupayakan Pembentukan LP3K tingkat Kabupaten Lembata. Melalui surat  Keputusan Bupati Lembata Nomor 95 Tahun 2018, terbentuklah Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Tingkat Kabupaten Lembata. SK Bupati Lembata ini menjadi payung hukum terselenggaranya pesta paduan suara Gereja Katolik tingkat Kabupaten Lembata tahun 2019 yang dimulai hari ini.

     Pesparani, ujar Mansyur, merupakan salah satu bentuk kegiatan kerohaniaan untuk pengembangan iman yang juga sekaligus memperhatikan, menghargai dan mendorong pengembangan seni budaya yang bernafaskan keagamaan sebagaimana dalam Gereja Katolik sebagai Pesta Iman dalam bentuk Ibadah, Perayaan Ekaristi syukur dan puji-pujian bagi Allah. Sekalipun kegiatan ini merupakan aktivitas internal umat katolik. Tetapi diharapkan mempunyai dampak sosial yang luas seperti terciptanya kerukunan antar umat beragama, geliat ekonomi lokal dan kerjasama yang kuat antar Gereja, Pemerintah, dan Masyarakat luas. Yakni, dengan semua elemen umat beragama diwilayah ini. Moment Pesparani menjadi model bagi kita untuk meningkatkan kebersamaan, mempererat persaudaraan, memperkokoh semangat kekeluargaan yang semakin kuat dalam keberagaman.

     Peserta yang ikut Lomba Pesparani tingkat kabupaten Lembata ini berasal dari 16 paroki se-Dekenat Lembata dengan kategori : Anak dengan usia 07-12 tahun, Remaja, 13-17 tahun, Orang Muda Katolik, 18-30 tahun dan Dewasa, 31 tahun keatas. Rincian peserta :  (1) Paroki Sta Maria Banneux Lewoleba dengan jumlah peserta 202 orang dan mengikuti 13 mata lomba. (2) Paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo, 201 peserta, mengikuti 13 mata lomba. (3) Paroki Kristus Raja Wangatoa, 181 peserta, mengikuti 13 mata lomba. (4) Paroki St. Fransiskus Asisi Lamahora, 129 peserta, mengikuti 11 mata lomba. (5) Paroki St Petrus dan Paulus Lamalera, 77 peserta, mengikuti 9 mata lomba.

(6) Paroki St Yohanes Paulus ll Wulandoni 16 peserta, mengikuti 7 mata lomba. (7) Paroki Santa Maria Ratu damai Mingar 75 peserta, mengikuti 9 mata lomba. (8) Paroki St Yoseph Boto 8 peserta, mengikuti 4 mata lomba. (9) Paroki Hati Amat Kudus Yesus Lerek 101 peserta, mengikuti 10 mata lomba. (10) Paroki St Antonius Padua Kalikasa 5 peserta, mengikuti 3 mata lomba. (11) Paroki Salib Suci Hooele 191 peserta, mengikuti 13 mata lomba. (12) Paroki Santa Maria Pembantu Abadi Aliuroba 197 peserta, mengikuti 13 mata lomba. (13) Parkoi St Wilhelmus Lodobelolong 6 peserta, mengikuti 4 mata lomba. (14) St Laurensius Hadakewa 81 peserta, mengikuti 9 mata lomba. (15) Paroki Sta Maria Bintang Laut Waipukang 168 peserta, mengikuti 12 mata lomba. (16) Paroki St Bbernadus Abas Tokojaeng 165 peserta, mengikuti 13 mata lomba.

     Bidang yang dilombakan mencakup bidang Liturgi dan Pendalaman Iman yang cakupannya : Paduan Suara Dewasa Campuran, Paduan Suara Dewasa Pria, Paduan Suara dewasa Pria, Paduan Suara Anak Pu d,anaSuara Remaja, Paduan Suara OMK, Menyanyikan Mazmur Anak, Menyanyikan Mazmur Remaja, Menyanyikan Mazmur OMK, Menyanyikan Mazmur Dewasa, Cerdas Cermat Rohani Anak, Cerdas Cermat Rohani Remaja dan Bertutur Kitab Sici anak.

     Haji Mansyur juga menyebutkan, Dewan Yuri yang bertugas pada Lomba Pesparani ini dipilih orang yang memiliki kompetensi dibidangnya. Mampu bekerja efektif,efisien,produktif dan profesional. Mampu memberi penilaian yang berkualitas, memiliki independensi, jujur dan tidak memihak. Mereka adalah : Elias Djoka, SH (Kupang), Apolonaris L.T. Tukan, S,pd (Kupang), Yosep Uran (Larantuka), Ferdinandus Lewoema (Larantuka), Yoseph Mikhael M. Hokeng, S.pd (Larantuka), Drs. Robert Sabon Taka (Larantuka), Pater Stef Tupen Witin, SVD (Lewoleba), Sr, Jenni,CSSH (Lewoleba) dan Sr. Stephani, CIJ dari Lewoleba.

     Kabupaten Lembata pernah mengukir prestasi dalam ajang lomba Pesparani, yakni secara penuh mengikuti Lomba Pesparani Tingkat Provinsi NTT tahun 2018, di Kupang dengan mengikut sertakan 6 mata lomba. Yakni, Paduan Suara Dewasa Campuran, Paduan Suara Gregorian Dewasa, Paduan suara anak, Mazmur Dewasa, Remaja dan Anak. Hasil yang diperoleh Kontingen Lembata cukup membanggakan yakni meraih 3 medali emas dan 3 medali perak. Berkat prestasi yang dicapai oleh Kabupaten Lembata pada ajang Pesparani Tingkat Provinsi NTT, maka Lembata ditunjuk menjadi peserta Pesparani Tingkat Nasional di Ambon dengan ikut serta pada Perlombaan Paduan Suara Dewasa Pria mewakili Provinsi NTT. Hasil yang dicapai pada ajang nasional ini adalah meraih satu Medali Perak.

     Dalam rangka menuju Pesparani Provinsi NTT dan Nasional pada tahun 2020, bulan Mei dan Oktober 2020 mendatang, Kabupaten Lembata dalam kerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata, Kementerian Agama Kabupaten Lembata serta LP3K, maka Pesparani Tingkat Kabupaten ini dapat dilaksanakan dengan mengikutsertakan 16 Paroki se-Dekenat Lembata. “Hajatan akbar yang meriah ini juga adalah partisipasi semua pihak terutama semua masyarakat Lembata. Untuk itu sangat diharapkan dukungan semua umat dan masyarakat dalam Kota Lewoleba sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pesparani II Tingkat Kabupaten Lembata. Mari kita wujudkan jati diri kita sebagai tuan rumah yang baik. Mari kita bersama mewujudkan Persaudaraan Sehati Menuju Lembata Sejahtera”. ***(Karolus Kia Burin/ Tim Dinas Kominfo Lembata).**